SELAMAT DATANG
bagi para pengunjung
Selasa, 09 Juli 2013
daftar link penting kampus-kampus negeri beserta alamat web dan jumlah prodi se indonesia
https://web.snmptn.ac.id/ptn
Selasa, 25 Desember 2012
Standarisasi Ekstrak Herbal
Sediaan obat tradisional atau herbal dibuat dari simplisia tanaman atau
bagian dari hewan, atau mineral dalam keadaan segar atau telah
dikeringkan dan diawetkan. Agar sediaan obat tradisional atau herbal
tersebut dapat dipakai dengan aman, terjaga keseragaman mutu dan kadar
kandungan senyawa aktifnya, maka diperlukan standardisasi. Sebelum
melalui tahap standardisasi sediaan, maka diperlukan standardisasi bahan
baku simplisia, yang meliputi :
Bahan baku simplisia
Dapat berupa tumbuhan liar atau berupa tumbuhan budidaya
Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia
Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia (Depkes RI, 1985).
a.Pengumpulan Bahan Baku
Kualitas bahan baku simplisia sangat dipengaruhi beberapa faktor,
seperti : umur tumbuhan atau bagian tumbuhan pada waktu panen, bagian
tumbuhan, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh (Depkes RI, 1985).
b.Sortasi
Sortasi dilakukan untuk memisahkan kotoran – kotoran atau bahan – bahan
asing lainnya dari bahan simplisia sehingga tidak ikut terbawa pada
proses selanjutnya yang akan mempengaruhi hasil akhir. Sortasi terdiri
dari dua cara, yaitu:
Sortasi basah : Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran
atau bahan asing lainnya setelah dilakukan pencucian dan perajangan.
Sortasi kering : Sortasi kering bertujuan untuk memisahkan benda-benda
asing seperti bagian-bagian tumbuhan yang tidak diinginkan dan
pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering
(Depkes RI, 1985).
c.Pengeringan
Pengeringan dilakukan agar memperoleh simplisia yang tidak mudah rusak,
sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama. Pengeringan dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu pengeringan secara alami dan secara
buatan. Pengeringan alami dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari
baik secara langsung maupun ditutupi dengan kain hitam. Sedangkan
pengeringan secara buatan dilakukan dengan oven. Bahan simplisia dapat
dikeringkan pada suhu 30oC – 90oC (Depkes RI, 1985).
d.Pengemasan dan Penyimpanan
Pengepakan simplisia dapat menggunakan wadah yang inert, tidak beracun,
melindungi simplisia dari cemaran serta mencegah adanya
kerusakan.Sedangka penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang
kelembabannya rendah, terlindung dari sinar matahari, dan terlindung
dari gangguan serangga maupun tikus.
Standardisasi Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat,
kecuali dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali dinyatakan lain berupa
bahan yang telah dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia terdiri dari simplsiia nabati, hewani dan mineral. nabati,
hewani dan mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa
tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Yang di maksud
eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari selnya
atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari
tanamannya. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh
atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa
zat kimia murni. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang
berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah dengan cara
sederhana dan belum berupa zat kimia murni. Untuk menjamin keseragaman
senyawa aktif, keamanan maupun kegunaan simplisia harus memenuhi
persyaratan minimal untuk standardisasi simplisia.
Standardisasisimplisia mengacu pada tiga konsep antara lain sebagai
berikut:
Simplisia sebagai bahan baku harus memenuhi 3 parameter mutu umum
(nonspesifik) suatu bahan yaitu kebenaran jenis (identifikasi),
kemurnian, aturan penstabilan (wadah, penyimpanan, distribusi) Simplisia
sebagai bahan dan produk siap pakai harus memenuhi trilogi
Quality-Safety-Efficacy Simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia
yang berkontribusi terhadap respon biologis, harus memiliki spesifikasi
kimia yaitu komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Depkes RI,
1985).
Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses
standardisasi suatu simplisia. Parameter standardisasi simplisia
meliputi parameter non spesifik dan spesifik. Parameter nonspesifik
lebih terkait dengan faktor lingkungan dalam pembuatan simplisia
sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di
dalam tanaman. Penjelasan lebih lanjut mengenai parameter standardisasi
simplisia sebagai berikut:
1. Kebenaran simplisia
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan dengan cara organoleptik,
makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik
dilakukan dengan menggunakan indera manusia dengan memeriksa kemurnian
dan mutu simplisia dengan mengamati bentuk dan ciri-ciri luar serta
warna dan bau simplisia. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik
dilanjutkan dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk
menegaskan keaslian simplisia.
a. Parameter non spesifik
Parameter non spesifik meliputi uji terkait dengan pencemaran yang
disebabkan oleh pestisida, jamur, aflatoxin, logam berat, penetapan
kadar abu, kadar air, kadar minyak atsiri, penetapan susut pengeringan.
b. Parameter spesifik
Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari
simplisia.Uji kandungan kimia simplisia digunakan untuk menetapkan
kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya dilkukan dengan
analisis kromatografi lapis tipis (Depkes RI, 1985).
Standardisasi Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa
atau serbuk yang diperoleh diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku
yang telah ditetapkan. Standardisasi ekstrak tidak lain adalah
serangkaian parameter yang dibutuhkan sehingga ekstrak persyaratan
produk kefarmasian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
Ekstrak terstandar berarti konsistensi kandungan senyawa aktif dari
setiap batch yang diproduksi dapat dipertahankan, dan juga dapat
mempertahankan pemekatan kandungan senyawa aktif pada ekstrak sehingga
dapat mengurangi secara signifikan volume permakaian per dosis,
sementara dosis yang diinginkan terpenuhi, serta ekstrak yang diketahui
kadar senyawa aktifnya ini dapat dipergunakan sebagai bahan pembuatan
formula lain secara mudah seperti sediaan cair , kapsul, tablet, dan
lain-lain.
1.Parameter Non Spesifik
a)Susut Pengeringan
Susut pengeringan merupakan pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada
temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai konstan, yang dinyatakan
dalam porsen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak mengandung minyak
menguap/atsiri dan sisa pelarut organik) identik dengan kadar air, yaitu
kandungan air karena berada di atmosfer/lingkungan udara terbuka
(Depkes RI, 2000).
b)Bobot Jenis
Parameter bobot jenis ekstrak merupakan parameter yang mengindikasikan
spesifikasi ekstrak uji. Parameter ini penting, karena bobot jenis
ekstrak tergantung pada jumlah serta jenis komponen atau zat yang larut
didalamnya (Depkes RI, 2000).
c)Kadar air
Kadar air adalah banyaknya hidrat yang terkandung zat atau banyaknya air
yang diserap dengan tujuan untuk memberikan batasan minimal atau
rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan (Depkes RI, 2000).
d)Kadar abu
Parameter kadar abu merupakan pernyataan dari jumlah abu fisiologik bila
simplisia dipijar hingga seluruh unsur organik hilang. Abu fisiologik
adalah abu yang diperoleh dari sisa pemijaran (Depkes RI, 2000).
2.Parameter Spesifik
a)Identitas
Identitas ekstrak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Deskripsi tata nama:
Nama Ekstrak (generik, dagang, paten)
Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
Bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, buah,)
Nama Indonesia tumbuhan
Ekstrak dapat mempunyai senyawa identitas artinya senyawa tertentu yang
menjadi petunjuk spesifik dengan metode tertentu. Parameter identitas
ekstrak mempunyai tujuan tertentu untuk memberikan identitas obyektif
dari nama dan spesifik dari senyawa identitas (Depkes RI, 2000).
b)Organoleptik
Parameter oranoleptik digunakan untuk mendeskripsikan bentuk, warna,
bau, rasa menggunakan panca indera dengan tujuan pengenalan awal yang
sederhana dan seobyektif mungkin (Depkes RI, 2000).
c)Kadar sari
Parameter kadar sari digunakan untuk mengetahui jumlah kandungan senyawa
kimia dalam sari simplisia. Parameter kadar sari ditetapkan sebagai
parameter uji bahan baku obat tradisional karena jumlah kandungan
senyawa kimia dalam sari simplisia akan berkaitan erat dengan
reproduksibilitasnya dalam aktivitas farmakodinamik simplisia tersebut
(Depkes RI,1995).
d)Pola kromatogram
Pola kromatogram mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran awal
komponen kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram kemudian
dibandingkan dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu (Depkes
RI, 2000).
sumber
http://mipa-farmasi.blogspot.com/2012/04/standarisasi-ekstrak-herbal.html
Minggu, 23 Desember 2012
Perbandingan penemuan obat dari laut dan dari darat
Penemuan obat dari marine product
Sampling
Pemilihan bahan biasanya berasal dari hewan dan algae. Dasar pemilihan bahan biasanya dari chemical ecology. Taksonomi dari spesies tidak jelas. Metode sampling, perlu memperhatikan hal-hal sbb:
- Preparasi sampel lebih kompleks, karena organisme laut mengandung kadar air dan garam yang tinggi dan senyawanya mudah terdegradasi begitu keluar dari air laut
- Lokasi biasanya merupakan daerah yang sulit dijangkau
- Teknik pengambilan sampel membutuhkan keahlian khusus (contoh diving).
- Menjaga tempat asal dari sumber laut tersebut tetap terpelihara sesuai dengan kondisi awalnya (tidak merusak lingkungan tempat dia tumbuh).
Skrining
Strategi skrining banyak kearah kimiawi (golongan senyawa tertentu misal : alkaloid, terpenoid, dll) untuk menghindari dereplikasi
Isolasi
Tantangan isolasi dari bahan laut adalah belum banyak literatur pendukung; kadar garam yang tinggi mengganggu terutama untuk isolasi senyawa polar; banyak senyawa yang labil; identifikasi: senyawa banyak yang unik yang tidak pernah ditemui sebelumnya; senyawa kompleks dengan kadar yang kecil.
Bandingkan dengan obat yang dari Terrestrial product
Sampling
Pemilihan bahan : tanaman, fungi, bakteri. Dasar dari pemilihan bahan bisa dari etnofarmakologi (secara empiris, kebiasaan, dll). Taxonomi spesies sudah jelas. Metode sampling: preparasi dan teknik pengambilan sampel lebih mudah; pelestarian terestrial product lebih bisa dikontrol dan dibudidayakan.
Skrining
Pendekatan skrining seringkali berdasar aktivitas biologi (efek antibakteri, antidiabetes, antihipertensi, dll)
Isolasi
Tenaga ahli sudah lebih banyak daripada yang kelautan dan literatur sudah banyak dan established.
sumber
http://farmasibahanalam.wordpress.com/2010/09/07/perbandingan-penemuan-obat-dari-laut-dan-dari-darat/#more-378
Sabtu, 22 Desember 2012
BOTANI FARMASI
JAMBU
BIJI (Psidium guajava)
Nama ilmiah jambu biji adalah Psidium guajava. Psidium berasal dari
bahasa yunani yaitu “psidium” artinya delima sedangkan “guajava” merupakan nama
pemberian orang Spanyol.
Jambu biji merupakan tanaman perdu bercabang banyak. Tingginya dapat mencapai
3-10 meter. Umumnya umur tanaman jambu biji hingga 30-40 tahun. Tanaman yang
berasal dari biji relative berumur panjang dibandingkan hasil cangkokan atau
okulasi.
Jambu
Biji (Psidium guajava) banyak
tersebar di Asia Tenggara termasuk Indonesia, sampai Asia Selatan, India dan
Srilangka. Jambu biji termasuk tanaman perdu dan memiliki banyak cabang dan
ranting, batang pohonnya keras. Permukaan kulit luar pohon jambu biji berwarna
coklat dan licin. Apabila kulit kayu jambu biji tersebut dikelupas, akan
terlihat permukaan batang kayunya basah. Bentuk daunnya umumnya bercorak bulat
telur dengan ukuran yang agak besar. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan
muncul dari balik ketiak daun. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah dataran
rendah sampai pada ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Pada umur 2-3
tahun jambu biji sudah mulai berbuah. Jambu biji ini akrab juga disebut Jambu klutuk (Jawa), Jambu
Batu (Sunda), dan Jambu bender (Madura).
A. Urutan takson jambu biji (Psidium guajava
L)
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas :
Dicotylopsida
Ordo : Myrtales
Family : Myrtaceaea
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava
B. Morfologi Tumbuhan jambu biji
1.
Daun (folium)
Daun
merupakan suatu bagian yang penting, yang berfungsi sebagai alat pengambilan
zat – zat makanan (reabsorbsi), pengolahan zat-zat makanan (asimilasi),
penguapan air (transpirasi) dan pernafasan (respirasi).
Daun jambu
biji tergolong daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian
saja disebut daun bertangkai. Daun jambu biji berbentuk bulat bulat oval dengan
ujung tumpul. Warna daunnya beragam seperti hijau tua, hijau muda, merah tua
atau hijau berbelang kuning.Permukaan daun ada yang halus mengkilap dan ada
yang halus biasa. Tata letak daun saling berhadapan dan tumbuh tunggal. Panjang
helai daun sekitar 5-15 cm dan lebar 3-6 cm. Sementara panjang tangkai daun
berkisar 3-7 mm.
Sifat – sifat daun yang dimiliki oleh tumbuhan jambu biji adalah
sebagai berikut :
a. Bangun
atau Bentuk Daun (Circumscriptio)
Dilihat
dari letak bagian terlebarnya jambu biji bagian terlebar daunya berada
ditengah-tengah dan memiliki bangun jorong (ovalis atau elipticus)
karena perbandingan panjang : lebarnya adalah 1,5-2 : 1
b.
Ujung
Daun (apex folii)
Jambu biji memiliki ujung yang tumpul (obtusus).
c. Pangkal
Daun (basis folii)
Pangkal daun jambu biji berbentuk tumpul (obtusus)
d. Susunan
tulang – tulang daun (nervation atau vanation)
Daun jambu biji pertumbuhan daunnya memiliki pertumbuhan daun yang bertulang
menyirip (penninervis) yang mana daun ini memiliki satu ibu tulang yang
berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun. Dari ibu
tulang kesamping, keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan
kita kepada susunan sirip-sirip pada ikan.
e. Tepi daun
(margo folii)
Jambu biji
memiliki tepi daun yang rata (integer)
f. Daging
daun (intervinium)
Daging daun jambu biji
berbentuk tipis seperti kertas (papiraceus atau chartaceus)
Sifat – sifat lain dari daun antara lain :
1. Warna
Hijau
2. Permukaan daun
Jambu biji
memiliki permukaan daun yang berkerut (rogosus).
2. Batang (caulis)
Batang jambu
biji memiliki ciri khusus diantaranya berkayu keras, tidak mudah patah,
kuat dan padat. Kulit kayu tanaman jambu biji halus dan mudah terkelupas karena
pada fase tertentu tanaman jambu biji mengalami pergantian atau peremajaan
kulit. Batang dan cabang-cabangnya mempunyai kulit berwarna cokelat atau
cokelat keabu-abuan.
Bentuk cabang pada jambu biji :
· Berkayu,
permukaannya licin dan lepasnya kulit kayu sangat
terlihat
· Arah
tumbuh batangnya tegak lurus (erectus).
· Jambu
biji memiliki cabang sirung pendek (virgula atau virgula sucre scens)
yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek yang selain daun juga
merupakan pendukung bunga dan buah. Cabang yang dapat menghasilkan
alat perkembangbiakan bagi tumbuhan (cabang yang subur “fertil”)
3. Akar (Radix)
Akar (Radix)
adalah bagian pokok ketiga dari tumbuhan setelah batang dan daun. Pada jambu biji, sistem perakarannya
adalah sistem akar tunggang, karena akar lembaganya terus tumbuh menjadi akar
pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil dan akar pokok
yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria).
Percabangan dan bentuk akar jambu biji :
·
Jambu biji memiliki akar tunggang yang
bercabang (ramosus) yang bentuknya kerucut panjang.
·
Tumbuh lurus kebawah
·
Bercabang cabang banyak dan cabang-cabangnya bercabang lagi sehingga
memberi kekuatan yang lebih besar pada batang dan perakarannya
luas yang
memungkinkan dapat menyerap air dan zat-zat makanan
yang lebih banyak.
4.
Bunga (Flos)
Pada
tumbuhan biji bunga merupakan alat perkembangan generatif, dimana ada bagian
yang disebut putik dan benang sari. Putik dan benang sari akan melakukan
persarian (penyerbukan) dan pembuahan sehingga akan menghasilkan bagian
tumbuhan yang di sebut dengan buah.
Bentuk bunga pada jambu biji :
*
Terdiri
atas 4 – 5 daun berkelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama dan tidak merapat.
*
Memiliki
benang sari yang banyak yang berhadapan dengan daun - daun mahkota
*
Memiliki
tangkai sari dengan warna yang cerah
*
Bakal
buah tenggelam dan mempunyai satu tangkai putik.
*
Bunga
tunggal terletak di ketiak daun dan bertangkai.
*
Perbungaan
terdiri 1 sampai 3 bunga dalam satau tangkainya.
*
Panjang
gagang perbungaan 2 cm sampai 4 cm.
*
Daun
mahkota bulat telur terbalik (obvatus) dengan panjang sekitar 1,5-2 cm
*
Berwarna
putih dan mudah rontok.
*
Tabung
kelopak berbentuk lonceng atau bentuk corong, panjang 0,5 cm. pinggiran tidak
rontok panjangnya ± 1cm.
*
Tepi
kelopak sebelum mekar berlekatan menjadi bentuk cawan, kemudian membelah
menjadi 2-5 taju yang tidak sama, bulat telur, warna hijau kekuningan.
*
Bakal
buah tenggelam dengan 1-8 bakal biji tiap ruang.
5. Buah (Fructus)
Jambu biji
memiliki buah sejati tunggal artinya buah ini terjadi dari satu bunga dengan
satu bakal buah saja dan memiliki lebih dari satu biji. Jambu biji termasuk
dalam buah sejati tunggal yang berdaging (curnosus). Buah jambu biji
berbentuk bulat atau bulat lonjong dengan kulit buah berwarna hijau saat muda
dan berubah kuning muda mengkilap setelah matang. Untuk jenis tertentu, kulit
buah berwarna hijau berbelang kuning saat muda dan berubah menjadi kuning
berbelang – belang saat matang. Ada pula yang berkulit merah saat muda dan
merah saat tua. Warna daging buah umumnya putih biasa, putih susu, merah muda,
merah menyala, serta merah tua. Aroma buah biasanya harum saat buah matang.
Bijinya banyak dan terdapat pada daging buahnya.
C. KUNCI DETERMINASI JAMBU BIJI :
1b :
Tumbuh-tumbuhan dengan bunga sejati, sedikit-dikitnya dengan benang sari dan
(atau) putik. Tumbuh-tumbuhan berbunga………………………..……2.
2b :
Tiada alat pembelit. Tumbuh-tumbuhan dapat juga memanjat atau membelit (dengan
batang, poros daun atau tangkai)………………………………..…3.
3b :
Daun tidak berbentuk jarum ataupun tidak terdapat dalam berkas tersebut di
atas…………………………………………………………………………..4.
4b :
Tumbuh-tumbuhan tidak menyerupai bangsa rumput. Daun dan (atau) bunga berlainan
dengan yang diterangkan di atas…………………………………6.
6b
: Dengan daun yang jelas………………………………………………….…7.
7b
: Bukan tumbuh-tumbuhan bangsa palem atau yang menyerupainya………..9.
9b
: Tumbuh-tumbuhan tidak memanjat dan tidak membelit………………….10.
10b : Daun
tidak tersusun demikian rapat menjadi rozet………………………..11.
11b : Tidak
demikian. Ibu tulang daun dapat dibedakan jelas dari jaring urat daun dan dari
anak cabang tulang daun yang ke samping dan yang serong ke
atas…………………………………………………...…………………….12.
12b :Tidak
semua daun duduk dalam karangan atau tidak ada daun sama
sekali...………………………………………………...…………………..13.
13b : Tumbuh-tumbuhan
bentuk lain………………………….………………..14.
14b
: Semua daun duduk berhadapan………….………………………………16.
16a : Daun
tunggal, berlekuk atau tidak, tetapi tidak berbagi menyirip rangkap sampai
bercangap menyirip rangkap (golongan 10)……...……………239.
239b:
Tumbuh-tumbuhan tanpa getah………………………………………...243.
243b:
Tidak hidup dari tumbuh-tumbuhan lain……………………………….244.
244b:
Susunan bertulangan daun tidak demikian, seluruhnya atau sebagian besar tulang
daun tersusun menyirip, menjari atau sejajar……………..…….248.
248b:
Daun bertulang menyirip atau menjari, susunan urat daun seperti jala…249
249b:
Daun tak mempunyai serabut demikian. Bunga berbentuk lain……..….250
250a:
Pohon atau perdu………………………………………………………...251
251b:
Tidak terdapat daun penumpu atau daun penumpu berbentuk lain….….253
253b:
Bunga tunggal, tandan, bulir, pajung atau malai……………….………..254
254b:
Susunan tulang daun tidak demikian……………………..……………..255
255a:
Kelopak sobek di atas bagian tengahnya, setengah bagian atasnya terlepas
menurut bentuk mangkuk (tutup kelopak). Daun umumnya berselaput lilin, jika
diremas berbau kayu putih……………………………..94. Myrtaceae
2a
: Buah buni berbiji banyak. Bagian muda berambut. Tabung kelopak tidak
atau sedikit sekali diperpanjang di atas bakal buah; tepi kelopak sebelum mekar
berlekatan menjadi bentuk cawan, kemudian membelah menjadi 2-5 taju yang tidak
sama…………………………………………….2. Psidium
Kunci determinasi:
1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14b-16a-239b-243b-244b-248b-249b-250a-251b-253b-254b-255a……94.
Myrtacee-2a.….2. Psidium.
sumber
http://marisamaliaaa.blogspot.com/2012/05/botani-farmasi.html
Farmasetika Dasar
Materi Perkuliahan Farmasetika Dasar
|
2 |
|
2 |
|
2 |
|
2 |
|
3 |
|
3 |
|
1 |
|
1 |
|
1 |
|
http://herusasongko.staff.mipa.uns.ac.id/2012/08/28/materi-perkuliahan/
Mikrobiologi
Mikrobiologi adalah sebuah
cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme. Objek
kajiannya biasanya adalah semua makhluk (hidup) yang perlu dilihat
dengan mikroskop, khususnya bakteri, fungi, alga mikroskopik, protozoa,
dan Archaea. Virus sering juga dimasukkan walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk hidup.
Mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang yang sangat penting dalam biologi setelah Louis Pasteur dapat menjelaskan proses fermentasi anggur (wine) dan membuat serum rabies Perkembangan biologi yang pesat pada abad ke-19 terutama dialami pada bidang ini dan memberikan landasan bagi terbukanya bidang penting lain: biokimia.
Penerapan mikrobiologi pada masa kini masuk berbagai bidang dan tidak dapat dipisahkan dari cabang lain karena diperlukan juga dalam bidang farmasi, kedokteran, pertanian, ilmu gizi, teknik kimia, bahkan hingga astrobiologi dan arkeologi.
sumber
http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=20169
Mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang yang sangat penting dalam biologi setelah Louis Pasteur dapat menjelaskan proses fermentasi anggur (wine) dan membuat serum rabies Perkembangan biologi yang pesat pada abad ke-19 terutama dialami pada bidang ini dan memberikan landasan bagi terbukanya bidang penting lain: biokimia.
Penerapan mikrobiologi pada masa kini masuk berbagai bidang dan tidak dapat dipisahkan dari cabang lain karena diperlukan juga dalam bidang farmasi, kedokteran, pertanian, ilmu gizi, teknik kimia, bahkan hingga astrobiologi dan arkeologi.
sumber
http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=20169
Langganan:
Postingan (Atom)